Call: 0123456789 | Email: info@example.com

Category: POLITIK


2018 disambut sebagai tahun panas politik di beberapa daerah Indonesia. Salah satu yang paling disorot adalah Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat (Jabar) 2018. Sudah ada banyak tokoh yang dipastikan diusung oleh partai politik (parpol) besar, salah satunya adalah Koalisi Sejajar milik partai Golkar dan Demokrat.

 

Kedua parpol besar ini sepakat mengusung bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Duo DM yaitu Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar. Hanya saja hingga Jumat (29/12) kemarin, Koalisi Sejajar belum bisa menentukan siapa yang akan berada dalam posisi Cagub atau Cawagub karena sedang dalam tahap negosiasi parpol. Sekedar informasi, Dedi Mulyadi adalah ketua parpol dengan elektabiitas tertinggi ketiga di Jabar sementara Deddy Mizwar adalah Wagub Jabar saat ini yang memiliki tingkat elektabilitas tertinggi kedua setelah Walikota Bandung, Ridwan Kamil, seperti dilansir Kompas.

 

Sementara itu meskipun Deddy Mizwar yang merupakan kader Demokrat sudah pasti diusung Koalisi Sejajar, PAN rupanya masih mendamba bisa mengusung produser sekaligus aktor senior itu sebagai Cagub pilihannya di Pilgub Jabar 2018. Bahkan Wakil Ketua Umum (Waketum) Ahmad Hanafi Rais masih ingin kader PAN bisa mendampingi Deddy Mizwar. Tak main-main, Hanafi menyebut nama aktris senior Desy Ratnasari yang kini menjadi anggota DPR RI 2014-2019 sebagai Cawagub pendamping Deddy Mizwar.

 

PAN Masih Galau Usung Sudrajat-Syaikhu

 

Seperti Hanafi, Ketum PAN Zulkifli Hasan secara jujur masih jatuh hati pada Deddy Mizwar. Ungkapan dua petinggi PAN ini terdengar cukup menarik karena sejauh ini PAN masuk dalam poros parpol bersama Gerindra dan PKS untuk sepakat menjalin koalisi di enam Pilkada 2018 termasuk Pilgub Jabar. Dan untuk Pilgub Jabar, Presiden PKS yakni Sohibul Imam mengklaim jika ketiga parpol sepakat mengusung Mayjen (purn) Sudrajat dan Ahmad Syaikhu.

 

Atas klaim Sohibul, Hanafi menyebutkan jika PAN akan memutuskan sikapnya pada awal Januari 2018. Seperti Hanafi, Zulkifli juga memilih untuk menanyakan kepada para tokoh masyarakat Jabar mengenai Sudrajat-Syaikhu. Dalam kesempatan yang sama, Zulkifli juga menyebutkan bahwa PAN sebetulnya mendukung Deddy Mizwar tanpa syarat.

 

“Saya nggak perlu syarat betul-betul, nggak minta wakil, nggak minta apa-apa. Saya justru minta waktunya satu hari saja dalam seminggu untuk keliling se-Jawa Barat bersama saya. Sudah, itu saja. Dan setelah diskusi panjang, ada masalah antara Deddy Mizwar dengan Gerindra dan PKS jadi kami menarik keputusan untuk mendukung beliau,” papar Zulkifli panjang lebar.

 

PKS Ungkap Alasan Tinggalkan Koalisi Golkar-Dem0krat

 

Jika PAN masih cukup galau untuk meninggalkan Deddy Mizwar, sikap berbeda justru diperlihatkan oleh PKS. Sebetulnya PKS bahkan begitu dekat dengan Demokrat dalam mendukung Deddy Mizwar sebelum akhirnya mantap memilih Sudrajat-Syaikhu. Atas perubahan sikap PKS, Wakil Ketua Dewan Syuro PKS yakni Hidayat Nur Wahid membenarkan jika adanya dinamika politik yang membuat dukungan PKS berubah. Hal ini dipicu oleh kontrak politik dari Demokrat yang tak mungkin diikuti oleh PKS. Kontrak itu sendiri mengenai kewajiban Deddy Mizwar untuk mendukung calon Presiden (capres) yang diajukan Demokrat dalam Pilpres 2019.

 

“Kriteria ini kami belum pernah diajak bicara karena PKS belum bicara capresnya siapa. Jadi kalau kemudian menjadi seolah-olah kami harus terikat dengan capres dan kami juga belum tahu siapa dia, itu kan jadi permasalahan lainnya. PKS tak ingin memberikan dukungan sembarangan terhadap calon yang belum jelas akan memimpin Indonesia di tahun berikutnya,” papar Hidayat.